Selasa, 17 Februari 2015

The Sleeping Spell

You, the guy I rhapsodize over
Through words, I devour your existence closer
Through prayers, I bestow the sweats you excrete
when you kill the routines with your weary breath
into the most beautiful serenade that the world ever pour to your bed!
(My silly spell pacifies your winsome sleep, does it not?)

Nighty night, Hurricane
I hope the droplets of moonlight from the west
will keep your sanctum safe from the anguish face of nightmares,
and spoil your snore with the universe's best selling fairytales
Until you open your eyes,
you'll realize how the whole universe are having a feast
and putting up their wine glasses
when they find out that, someone I crawl over, awaken from his bed, alive
And ready to festive the sun to arise

P.S. have I mentioned I miss you?

Jumat, 23 Januari 2015

The Visit

He finally visited her. He said he missed her so much, but she knew he just got bored and wanted to fool around --she knew. She was okay with that.

I love you for so long.

She made love to him in her room. It was her dreamlike night. She couldn't help to contentedly devour or be devoured every inch from north to south. In the bed of joyously she cried in happiness.

"I think should go home by now." He said that just 5 minute, literally a 5 minutes after he finished. She was so disappointed --and terribly devastated.

Just go home, dickhead. Go to your lovely wifey. She might wait you to come home and had made you delicious dinner. Her tummy might be residing your first awaited baby to be born.

"No, don't go." She cried.

Selasa, 16 Desember 2014

The Psychosis Lovebirds

She forgot to clean her floor from the rainbow that she vomits
when everytime they kiss
the vivid lights of fireflies he shares from his lips
to her lips he bit
with fangs of beast that he unleashes
while she and him were having psychosis
because they have detached themselves
to the wide ocean of pondering
what love is. What is love?
 (they keep pondering till they came home in the morning)

Now she still forgets to clean her floor from the rainbow she vomitted; she slipped
It was load of liquid rainbows here and there
Cause last night they kissed
and the rainbow glowed out from her mouth,
turning into liquor he drank till he was drunk
hiccup hiccup hiccup!
He turned into the beast everybody fears
And there came the times they would do it all over again:
he was berserking,
she was secretly smirking
(but in the groaning voice of happiness, they were still pondering what love is)

The sound of kiss they made turned into Beethoven’s rhapsody,
but outside the window the black crow singing poignantly

They fell to the bed like there was no tomorrow,
but before the guy start drooling her a fireflies river
the girl said
she wanted to turn off the lamp and making sure
the door was shut

Kamis, 30 Oktober 2014

Pada Asap Rokok


Memujalah aku pada asap rokok
yang dihembus damai ke langitan

Malam, sebatang lagi saja
maka aku gila
seperti di puncak nikmat
tapi sunyi teramat

Bisa kaudengar suara khas ujung batangnya
ketika kuhisap lekat, api merambat menyulut
lembut seperti memagut (bibirnya, La Mer )
yang tak henti-hentinya kuumpamakan laut
sebab ia tenang, beriak kecil sesekali
tapi dalam
tapi tenggelam
Keenakan yang dilakukan sambil terpejam
dalam ramai pesta semesta
yang bahkan kami tidak diundang, lagi-lagi
berduaan asik kami nyanyi-nyanyi
lalu mabuk teler oleh perasaan sendiri
dalam ingkar yang setia pada janji-janji:
“aku bakal begini, begini, begini
 begini, dan begini.”

atas nama malam kami bersumpah itu-ini
sedang esok pagi,
cinta tidak bermakna apa-apa lagi

lalu aku tersadar dari igauan
“ah, masih jam delapan.”
bau asap rokok menyepuh seisian ruangan

sementara aku memaksa satu batang lagi
agar kuhisap lebih damai
hingga api di ujungnya merambat
merayapi kekosongan yang tak mampu dinamai
(atau tak sudi kunamai!)
hingga membakarmu
hidup-hidup

“api di dalam tubuhku
tak lagi membakarmu?"
baru sekali hisap, aku mengigau lagi

Minggu, 26 Oktober 2014

Absurdity No. 7: The Idle

Di dalam bilik yang ia bangun dari kejenuhan akan kekosongannya sendiri, ia menanti tiada. Menerus ia busuk di sana bersama mimpi yang, katanya, kelak akan ia susun perlahan melalui gairahnya. Mimpi yang, katanya, sedari bocah ia tekadkan untuk tidak hanya sekadar angan yang numpang lewat di pekarangan rumah, atau angan yang jadi kembang dalam tidurnya; tetapi mimpi yang harusnya ia berikan nafas, ia berikan nyawa dan penghidupan yang layak hingga akhirnya menjadi mapan, menjadi tuan atas dirinya sendiri. Mimpi yang harusnya tak ia abaikan di laut lepas, tetapi diajak berlayarlah bersama ia mengarungi lautan lepas, hingga semakin dekatlah ia ke arah di mana mimpinya berpesta di pulau-pulau, sedang ia minum arak beria-ria di atas kebahagiaan atas keringatnya. Orang namakan bekerja keras itu sebagai melacur dengan hormat.

daripada meringkuk di kamar
lebih baik melacur ke luar
agar tahu kejam
agar tahu garam
maka mereka melacur... melacurlah
melacur dengan mimpi
menerjang badai waktu
di belantara lacur-lacur
yang lebih-lebih kuatnya


Sayangnya ia masih di situ, menanti tiada. Menerus busuk jadi babu atas ketidaktahuannya akan esok, atas kebutaarahannya akan lautan lepas, sebab mengemudikan tubuhnya kepada mimpi saja ia tak miliki kuasa. Di waktu yang sepanjang ini mestilah ia sudah melangkah jauh, bergandengan dengan mimpinya sambil menghadap langit senja kesukaannya (ah, lagi-lagi senja); yang nanti dapat ia nikmati sambil ngangkang atau rebahan, dengan satu kap kopi susu dingin dari kedai gengsian di seberang telaga itu.

telaga memisah kami utara selatan
si makmur jumpalitan
si biasa kelamaan tiduran
si makmur bisa makan
si biasa pun makan
bungkusan yang sedikit murahan

Oh, dewa. Betapa pengecutnya ia, penuh laga ia bersungut-sungut bermimpi, tetapi tidak mau nanggungjawab untuk mengejarnya sepenuh jiwa. Betapa angkuhnya ia, berani berkata bahwa mimpinya adalah gairah liar sejati yang ranum berkembangbiak di raganya dari musim ke musim, tetapi sungguh enggan untuk mengenalinya lebih dalam.

"... mata manusia
selalu menghadap keluar
tak satu pun yang sanggup
melihat ke dalam dirinya sendiri."
 (Yanusa Nugroho, dalam Boma)


Sayangnya, selain pengecut dan angkuh, ia pun tak punya malu. Bukannya siap-siap untuk bangkit dan mengenali mimpi sejatinya itu, ia malah bikin tulisan serupa ini. Tulisan yang isinya borok sendiri.

Selasa, 16 September 2014

Enggan

Disengajakan ia datang dalam tetiba
enggan pergi
Seolah mengemis tuk terus diimpi
meski ia sudah jadi impi sejak malam-malam lalu
sembunyi pada lemah lagu-lagu syahdu
jua rerinduan yang diucap malu-malu
atas ketidakacuhannya pada langit yang sengaja orang gambar
dari peluh kesabaran
dari isak penantian yang arahnya semrawutan
yang ujungnya tidak mengisyaratkan apa-apa
selain matanya yang tidak lagi menghidupi redup api
(tapi padam pun tak siap)
Iseng datang dalam tetiba lalu enggan pergi
Malah menjelma jadi impi yang tidak kenal maaf,
berani main-main di hidup orang


Selasa, 12 Agustus 2014

Langit Malam Setelah Kau Antar Aku Pulang

Belum pernah semasa hidupku bulan berkarib mesra dengan malam
yang kemarin kaku dan hampa makna
Sebab pujangga tak lagi kuasa
memberi makna pada bulan
meski ia memesonakan mata sejak kemarin petang

Lalu kau datang tidak bawa apa-apa
Entah sengaja atau lupa

Tanpa perlu melakon pujangga dengan berbait sajak di tangan,
dilecehkannya sang bulan sampai pucat pasi ia bermuka
kewalahan menahan malu

Bagaimana bulan tidak malu?
Sekata pun tidak kau berpuisi,
tapi pesona bulan tidak lagi bermakna
Atas kamu